Pages

Jumat, 31 Agustus 2012

hikmah di balik sial


       “Pokoknya besok kamu harus datang ke rumahku !!” kata Sigit padaku , “iya,iya” jawabku singkat , dua hari yang lalu aku memang berjanji pada Sigit ke rumahnya untuk meminjamkan kaset playstation baru miliku , namun hari itu aku lupa membawakan kaset itu , padahal sigit telah menantikannya sejak lama. Akhirnya seharian itu aku mendapat omelan dan cacian darinya. Aku pun hanya mengalah pada kata-katanya.

         Malam harinya ponselku berdering tepat pada jam sembilan malam, namun malam itu aku sudah tertidur karena merasakan semua tulangku yang hampir remuk. Awalnya aku merasa malas untuk mengangkat ponsel itu, tapi akhirnya kuangkat juga karena merasa terganggu akan suara bisingnya. Aku tidak sempat melihat siapa penelpon tersebut, tapi ketika kuangkat telpon itu aku langsung jatuh dari tempat tidur karena kaget akan teriakan Sigit di telpon, “bawakan kasetku!!” ucapanya lantang, karena merasa jengkel aku pun menjawab dengan bumbuan ejekan. Sebenarnya aku jadi bertanya tanyaakan sesuatu, sebenarnya itu kaset siapa?? Dengan peristiwa jatuhnya aku dari tempat tidur, aku sudah membawa kaset itu setelah bangun tidur. Dan yang paling membuatku tidak suka adalah cara membangunkannya saat aku tidur. Maka aku putuskan untuk selalu menyiapkan kaset yang akan dipinjam Sigit sebelum tidur. Seperti biasa aku datang ke sekolah pada pukul 6.50, padahal seharusnya pelajaran dimulai pukul 6.45, jengkelnya aku harus membersihkan sekolah dari sampah jika aku datang ke sekolah lebih dari pukul 6.45, meskipun aku hanya terlambat 0,001 detik.          Setelah membersihkan sekolah aku masuk kelas dengan perasaan yang tidak mengenakan, mengingat guru Biologi kami sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari pada babi hutan yang mengamuk. Tapi untungnya aku lepas dari amukan itu karena guruku sedang pergi ke toilet. Aku duduk di sebelah Raihan, Raihan termasuk salah satu teman terbaiku karena aku selalu mendapat contekan PR atau ulangan darinya, dia pun juga mau ikut ke rumah Sigit untuk bermain playstation bersama, tapi dia tidak semarah dan penelpon menjengkelkan seperti Sigit jika aku tidak membawa kaset. Tidak sampai 30 detik aku duduk di bangkuku Sigit bertanya padaku apakah aku membawa kasetku, tapi aku merasa jengkel dan bilang padanya “sorry, ketinggalan” sejurus kemudian aku merasakan hawa ingin membakar sekolah dari Sigit, tapi untungnya guru Biologi kami datang, dan mengingat amukan Sigit akan redup jika diadu dengan amukan guru kami, sigit pun hanya tertunduk kecewa dan kesal. Saat istirahat Sigit menghampiriku seakan kesurupan setan kesiangan, tapi saat dia akan mengucapkan sepatah kata aku menunjukan kasetku dari loker bangkuku. Seakan diguyur air es amarah Sigit pun beralih menjadi senyuman manis. Saat pulang sekolah kami langsung meninggalkan sekolah dengan cepat, tapi mungkin tidak lebih cepat dari jalannya seekor siput yang menggunakan NOS. Sambil menunggu angkot kami membeli jus di tempat langganan kami harganya mungkin murah tapi jusnya hanya diberi sedikit, bahkan terkadang tidak di beri bongkahan es. “eh,, cepat angkotnya keburu penuh !!” teriak Sigit padaku dan Raihan. Kami pun berlari secepat yang kami bisa untuk menaiki angkot tersebut aku duduk di sebelah pak sopir, namun mengapa aku merasakan firasat buruk saat itu. Sigit dan Raihan duduk di belakang. “kiri pak, kiri!!” teriak Sigit seakan ingin memecahkan kaca angkot tersebut, tak lama kemudian aku langsung tersentak ke depan dan hampir membenturkan kepalaku ke kaca yang hampir pecah tadi akibat teriakan Sigit, setelah turun aku memperkirakan bahwa si sopir menggunakan rem cakram. Setelah turun dari angkot kami harus berjalan sekurang-kurangnya 500 meter menuju rumah Sigit, sebenarnya aku tidak tau menau seluk beluk rumah Sigit, karena aku tidak pernah ke rumah Sigit sebelumnya. Ketika sampai di rumahnya, Sigit menyuguhkan tiga gelas sirup marjan rasa jambu pada kami bertiga. Setelah itu dia langsung mempersiapkan playstationnya untuk mecoba kaset yang aku bawakan untuk segera dieksekusi. Tak terasa jam dinding di kamar Sigit sudah menunjukan pukul 14.29.59 WIB, Sigit meminta salah satu dari kita untuk membeli bakso. Karena tidak ada yang mau mengalah terpaksa diputuskan lewat adu hompimpa. Tapi sialnya selalu aku yang kalah, Sigit dan Raihan hanya tersenyum mengejek katika aku cemberut jengkel, mengingat aku selalu kalah jika disuruh hompimpa. Dan aku tau bahwa mereka memanfaatkan kelemahanku untuk mendapat keuntungan, sebenarnya Raihan mau menawarkan diri untuk membeli bakso karena aku bersikap pesimis, tapi karena dia selalu memberikan contekan padaku aku jadi tidak tega padanya. “Aduh.. dimana dan kemanakah aku harus membeli tiga bungkus bakso itu??” keluhku pada diriku sendiri, “tau begini biarkan saja Raihan menggantikanku membeli bakso” keluhku pada diriku sendiri lagi yang seakan seperti orang gila kesiangan. Siang itu matahari terasa menyengat kulit, dan parahnya aku hanya berputar-putar di sekeliling kampung Sigit tanpa arah dengan tujuan membeli bakso. Aku melihat jam di sebuah bengkel, “waduh udah jam 16.00!!” udah 1 jam 31 menit 1 detik aku berkeliaran bagaikan anak hilang di kampung Sigit, malangnya beberapa menit kemudian aku malah sampai di sungai yang sedikit menjijikan karena ada nenek yang buang hajad di sana, “huh.. rasanya mau nangis aja kalau begini” keluhku. Namun tak lama kemudian ada suara menggelegar yang sangat kuingat jelas, suara guru Biologiku!! “Tio!! Kamu Tio anak kelas 9J itukan?? Teriak guru Biologiku, “bener banget bu Risa” sahutku penuh bahagia, aku sangat dikenal oleh bu Risa karena aku sering terlambat pada jam pelajarannya, tapi gara-gara terlambat itu aku jadi selamat. Untungnya bu Risa tau dimana rumah Sigit, Aku diantarnya sampai rumah Sigit dengan senang hati olehnya. Ketika di Rumah Sigit aku melihat bakso yang sudah disantap oleh dua bocah tengil itu tepat setelah mengucapkan terima kasih dan mengusir pergi bu Risa dari rumah Sigit. Aku sangat jengkel sekali saat itu dan berkata “saat temennya tersesat kalian kok malah makan bakso dengan santai!! Dasar tak berperikehewanan, eh.. berperikatemanan” ejekku kesal, namun mereka hanya tertawa, aku jadi malah tambah kesal, tapi aku merasa sedikit senang karena gara-gara aku suka terlambat, aku mendapat pertolongan yang tak terduga duga dari guruku. Aku pun dapat menarik kesimpulan bahwa tak selalu kesialanku membawa petaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar