Aku tersenta kaget mendengar suara geraman macan di koridor rumah. Aku memberanikan diri melihat keluar, betapa kagetnya aku melihat sosok macan besar setinggi kira-kira 7 meter berdiri tegak di depan kamarku. Matanya merah menyala dan membuatku pingsan di tempat.
Jam weker membangunkanku, kulihat waktu menunjukkan pukul 7 kurang 10 menit, sejenak kusadari bahwa kejadian itu hanya mimpi. Ibuku menyuruhku untuk segera bersiap-siap pergi ke sekolah, namun aku masih teringat kejadian tengah malam itu. Aku masih berpikir jika itu nyata, saking seriusnya aku lupa untuk membawa tas ku ke sekolah.
Beberapa hari ini memang aku kepikiran tentang hantu macan berdiri tegak dan bermata merah itu. Seminggu lalu ayah membeli sebuah topeng macan tua di sebuah toko antik, bagaimana aku tidak takut?? topeng itu serasa mengeluarkan aura-aura yang mengerikan. Setiap malam aku mendengar suara geraman macan dari koridor, yang kebetulan berada di depan kamarku. Sering juga aku mendengar langkah derap kaki yang sedang berlari.
waktu itu aku terbangun tepat pukul 12.00 malam, dan aku yakin itu bukan mimpi. Ada suara teriakan yang menggema di koridor. Aku seakan ingin mengintip, namun terasa berat sekali. Entah karena apa pintu kamarku terbuka lebar dengan sendirinya. Auman macan jelas terdengar di telingaku, sesosok macan besar muncul di depan mataku. Aku hanya terpanah melihat macan besar itu, aku menyalakan lampu dan melihat di sekitar kamarku, namun tidak ada siapa siapa.
Aku sangat ketakutan, dengan cepat aku menuju kamar ayah dan ibu. Betapa kagetnya aku melihat kobaran api di dapur yang baru saja kulewati. Dengan cepat aku mencoba memadamkannya dengan air dari kamar mandi yang kebetulan dekat dapur. Aku berteriak kencan yang langsung membangunkan dan meyaret ayah dan ibu ke dapur.
Tak lama kemudian api berhasil di padamkan, ibuku dengan cepat menanyakan keadaanku, ayah bertanya apa yang terjadi. Aku ceritakan semua kecuali soal macan. aku ingat perkataan penjaga toko antik yang sudah berumur itu, bahwa janga pernah melihat luarnya namun dalamnya. Aku sadar yang di maksud itu adalah si topeng, aku tertegun sejenak, mencoba memahami situasi, dari dalam hati terucap kata yang tidak biasa, terima kasih penjaga rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar